Tropical Biodiversity Summer Course 2026, SITH ITB Perkuat Kolaborasi Global Melalui Pembelajaran Lapangan Keanekaragaman Hayati Tropis
Oleh --- -
Editor Muhammad Efriza Pandia
Dok. SITH ITB
BANDUNG – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati melalui penyelenggaraan Tropical Biodiversity Summer Course (TBSC) 2026. Mengusung tema Towards Sustainable Conservation, program yang berlangsung pada 10–19 Juli 2026 ini mempertemukan mahasiswa, dosen, dan peneliti dari berbagai negara untuk belajar langsung mengenai kekayaan biodiversitas tropis Indonesia melalui perpaduan kuliah, diskusi ilmiah, serta pembelajaran berbasis pengalaman di lapangan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas akademik sekaligus membangun jejaring kolaborasi internasional dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati.
Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Jepang, Malaysia, Vietnam, Oman, Inggris, dan negara lainnya. Keberagaman latar belakang akademik tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai tantangan konservasi di berbagai belahan dunia sekaligus memperkaya proses pembelajaran selama kegiatan berlangsung.
Indonesia sebagai Laboratorium Alam bagi Pembelajaran Biodiversitas
Sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia, Indonesia menawarkan ekosistem tropis yang sangat kaya sehingga menjadi lokasi ideal untuk mempelajari konservasi secara langsung. Pada pembukaan kegiatan, SITH ITB menegaskan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati merupakan tantangan global yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Melalui Tropical Biodiversity Summer Course 2026, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep dasar ekologi tropis dan konservasi, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai pendekatan mutakhir, seperti pemanfaatan environmental DNA (eDNA), pemodelan distribusi spesies berbasis kecerdasan buatan, hingga pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan untuk bidang kesehatan dan obat-obatan. Seluruh materi disampaikan oleh dosen SITH ITB bersama akademisi dan pakar internasional.
Dari Ruang Kelas Menuju Ekosistem Alami Pangandaran

Dok. SITH ITB
Puncak kegiatan berlangsung melalui field course di Pangandaran, Jawa Barat, yang menjadi laboratorium alam bagi peserta untuk menerapkan teori yang telah dipelajari. Selama dua hari, peserta melakukan eksplorasi berbagai ekosistem pesisir, laut, dan hutan konservasi yang memiliki kekayaan biodiversitas tinggi.
Menurut Kepala Program Studi Sarjana Biologi SITH ITB, Dr. Husna Nugrahapraja, pembelajaran konservasi tidak dapat dilakukan hanya melalui teori.
"Belajar konservasi tidak cukup hanya di dalam kelas. Mahasiswa perlu melihat langsung kondisi di lapangan, menganalisis masalah ekologis secara kritis, dan belajar berkolaborasi untuk mencari solusi yang berkelanjutan."
Koordinator Tropical Biodiversity Summer Course 2026, Dr. Ardhiani Kurnia Hidayanti, menambahkan bahwa pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi peserta.
Di Pantai Pasir Putih Pangandaran, peserta mempraktikkan metode standar koleksi taksonomi, mendokumentasikan, mendeskripsikan, serta mengidentifikasi berbagai organisme laut sebelum melepaskannya kembali ke habitat alami. Sementara di Cagar Alam Pangandaran, mereka mempelajari vegetasi hutan dataran rendah, mengamati mamalia, reptil, burung, dan serangga, sekaligus memahami pengelolaan kawasan konservasi secara langsung bersama pengelola kawasan.
Menghubungkan Teori dengan Praktik Konservasi
Pembelajaran lapangan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi nyata di alam. Mereka melakukan observasi biodiversitas laut, inventarisasi vegetasi, pengamatan satwa liar, hingga mengeksplorasi Gua Panggung untuk mempelajari fauna penghuni gua, termasuk kelelawar dan landak di habitat alaminya.
Seluruh aktivitas dilakukan secara berkelompok sehingga peserta dari berbagai negara dapat saling berdiskusi, menganalisis hasil pengamatan, serta menyusun solusi berdasarkan kondisi ekologis yang mereka temukan. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemampuan ilmiah, tetapi juga melatih komunikasi ilmiah, kolaborasi lintas budaya, dan pemecahan masalah secara multidisiplin.
Memperkuat Jejaring Akademik Internasional
Selain memperkaya pengalaman akademik, Tropical Biodiversity Summer Course 2026 menjadi wadah untuk membangun jejaring internasional di bidang pendidikan, penelitian, dan konservasi. Interaksi antara mahasiswa, dosen, dan peneliti dari berbagai institusi diharapkan menjadi awal bagi kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, maupun pengembangan program akademik bersama pada masa mendatang.
Melalui penyelenggaraan program ini, SITH ITB kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 13 (Climate Action), SDG 14 (Life Below Water), SDG 15 (Life on Land), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).

.jpg)

.jpg)




