Orasi Ilmiah Prof. Deddy Priatmodjo Koesrindartoto: "Economist as an Engineer” untuk Ekonomi yang Tangguh dan Berkeadilan
Oleh Dina Avanza Mardiana - Mikrobiologi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Forum Guru Besar, Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) menyelenggarakan Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar di Aula Barat ITB pada Sabtu (11/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Deddy Priatmodjo Koesrindartoto dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB menyampaikan orasi ilmiah berjudul "'Economist as an Engineer' untuk Membangun Ekonomi yang Tangguh dan Berkeadilan".
Orasi ini menyoroti perlunya pergeseran paradigma mendasar dalam praktik keilmuan ekonomi. Mengutip gagasan Alvin Roth (2002), Prof. Deddy memaparkan bahwa seorang ekonom modern tidak seharusnya sekadar menjadi pengamat atau penganalisis angka.
Ekonom seyogianya bertindak layaknya insinyur yang mampu merancang, memodelkan, dan mengevaluasi aturan main sebuah sistem ekonomi. Hal ini diperlukan agar interaksi antar aktor di dalam sistem tersebut dapat menghasilkan luaran kesejahteraan yang diharapkan.
Untuk merealisasikan desain tersebut, Prof. Deddy menggunakan pendekatan Agent-Based Computational Economics (ACE). Model analitik klasik, menurutnya, kerap menyederhanakan realitas ekonomi sebagai smooth landscape (permukaan mulus) yang bergerak menuju satu titik keseimbangan sempurna.
Padahal, kenyataan sesungguhnya adalah rugged landscape, yakni bentang alam yang penuh puncak dan lembah, ketika sistem ekonomi dipenuhi agen-agen heterogen yang berinteraksi secara kompleks. Dengan komputasi ACE, kebijakan publik dan aturan pasar dapat disimulasikan terlebih dahulu di laboratorium virtual sebelum diimplementasikan ke dunia nyata.
Dalam merancang sistem ekonomi, Prof. Deddy menekankan dua tujuan utama yang tidak bisa dipisahkan: tangguh dan adil. Ketangguhan bukan sekadar kemampuan sistem untuk kembali ke kondisi semula (bouncing back) setelah dihantam krisis.
Sistem yang benar-benar tangguh harus mampu menyerap guncangan, beradaptasi, serta memiliki kapasitas transformatif untuk melompat ke tatanan yang lebih kokoh atau bouncing forward.
Sementara itu, keadilan ekonomi dipaparkan melalui empat dimensi, yakni keadilan distributif, prosedural, kemampuan, dan antargenerasi. "Adil bukan tentang membagi setiap potong kue dengan ukuran yang sama kepada setiap orang, melainkan tentang memastikan bahwa proses dan aturannya proporsional," katanya.
Gagasan dan instrumen komputasi tersebut telah ia buktikan melalui berbagai kontribusi riset strategis. Beberapa di antaranya mencakup pengembangan platform AMES untuk simulasi regulasi pasar listrik, kajian struktur mikro dan perilaku trading di Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga manajemen dana lestari (Endowment Fund) saat ia menjabat sebagai Direktur BPUDL ITB.
Dalam orasinya, Prof. Deddy turut memetakan batas-batas tantangan baru (frontier) yang harus segera dijawab oleh pembuat kebijakan ekonomi di Indonesia. Tantangan tersebut mencakup risiko diskriminasi pada algoritma Artificial Intelligence (AI) di sektor finansial, keharusan adopsi RegTech dan SupTech bagi regulator keuangan, pengawasan ekosistem kripto dan Decentralized Finance (DeFi), serta penerapan keuangan hijau yang bebas dari jebakan greenwashing.
Pada penghujung orasi, ia memberikan pesan khusus mengenai integritas institusi akademik. Ia mengingatkan para akademisi muda agar tidak terjebak dalam pengejaran metrik yang dangkal. "Jangan biarkan metrik menggantikan makna," ujarnya.
Ia juga menyoroti peran sejati seorang pendidik yang bukan sekadar pengajar keterampilan teknis. "Keberanian intelektual adalah modal paling berharga yang bisa diberikan seorang pendidik. Bukan pengetahuan, yang bisa usang, dan bukan keterampilan teknis, yang bisa digantikan teknologi," ujarnya.
Selengkapnya dapat diakses di ITB Press.

.jpg)

.jpg)




