Orasi Ilmiah Prof. Asep Saepuloh: Volkanologi Digital untuk Keselamatan Masyarakat dan Ketahanan Energi Nasional

Oleh Chysara Rabani - Teknik Pertambangan, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id - Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Orasi Ilmiah Guru Besar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (11/7/2026). Pada kesempatan ini, Prof. Dr.Eng. Ir. Asep Saepuloh, S.T., M.Eng. dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB menyampaikan orasi berjudul “Volkanologi Digital: Perspektif Spasio-Temporal untuk Sains, Kolaborasi, dan Ketahanan Energi Nasional”.

Dalam orasinya, Prof. Asep menyoroti hubungan panjang antara peradaban manusia dan gunung api. Ia memaparkan bahwa gunung api bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari sejarah, sumber daya, dan masa depan energi bangsa. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif dan 674 gunung api lainnya yang membentang dari Sumatera hingga Maluku.

“Bagi Indonesia, gunung api bukan hanya bagian dari bentang alam. Sejarah geologi, sumber daya, dan sebagian masa depan energi bangsa terdapat di dalamnya. Pertanyaan yang selalu saya tekuni adalah, bagaimana kita memahami gunung api secara utuh, kuantitatif, dan prediktif untuk mendukung keselamatan masyarakat serta ketahanan energi nasional?” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa evolusi ilmu pengetahuan telah mengubah cara pandang manusia dari rasa takut menjadi pemahaman. Terdapat lima era pemahaman gunung api: mulai dari era supranatural, era pengamatan, era pengukuran seismik, era satelit, hingga saat ini memasuki era kecerdasan buatan, di mana gunung api direpresentasikan secara digital untuk disimulasikan dan diprediksi perilakunya.

Lahirnya Konsep Volkanologi Digital

Tantangan utama dalam mengamati gunung api di Indonesia adalah kondisi lingkungan tropis yang diselimuti awan persisten, vegetasi lebat, medan terjal, serta lokasi yang tersebar di ribuan pulau. Untuk mengatasi kendala pengamatan lapangan tersebut, pemantauan berbasis satelit menjadi solusi utama yang melahirkan konsep "Volkanologi Digital".

Prof. Asep menjelaskan bahwa Volkanologi Digital adalah pendekatan untuk memahami gunung api melalui observasi spasio-temporal, integrasi multi-sensor, dan kecerdasan artifisial. Pendekatan ini ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu membaca aktivitas permukaan, memahami proses bawah permukaan, serta mengintegrasikan informasi menjadi sistem pengetahuan.

"Setiap gunung api memiliki bahasa yang berbeda. Merapi berbicara melalui proses deformasi dan kubah lava, Sinabung berbicara melalui perubahan kekasaran permukaan. Melalui satelit dan volkanologi digital, kita mengintegrasikan indikator yang terpisah menjadi sebuah sistem terhubung untuk menerjemahkan bahasa bumi tersebut," ujarnya.

Dari Risiko Bencana Menjadi Potensi Geotermal

Prof. Asep juga menekankan pentingnya perubahan paradigma, dari semata-mata mengurangi risiko bencana menjadi memanfaatkan potensi gunung api. Sistem vulkanik yang menghasilkan bahaya merupakan sistem yang sama yang menyimpan sumber daya energi raksasa, salah satunya energi panas bumi (geotermal).

Untuk menjawab tantangan eksplorasi geotermal yang tersembunyi di bawah vegetasi dan tanah lapuk, Prof. Asep menggunakan integrasi data termal, radar, struktur geologi, dan observasi lapangan guna mengidentifikasi steam spot dan jalur fluida. Pendekatan ini secara signifikan mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan efisiensi eksplorasi geotermal.

Kecerdasan Artifisial dan 'Digital Volcano Twin'

Dengan melimpahnya data satelit saat ini, kecerdasan artifisial menjadi kebutuhan untuk mendeteksi pola dan anomali. Visi ke depannya adalah membangun Digital Volcano Twin Indonesia, yaitu sebuah representasi digital gunung api yang terus diperbarui dengan data satelit, sensor lapangan, dan geofisika.

“Selama ribuan tahun manusia memandang gunung api sebagai objek yang ditakuti. Hari ini kita membacanya sebagai sistem data. Di masa depan, melalui volkanologi digital, kita berharap mampu mengubah kekayaan vulkanik Indonesia menjadi fondasi keselamatan masyarakat, energi bersih, dan kemandirian energi bangsa,” ujarnya.

Profil Prof. Asep Saepuloh

Prof. Dr.Eng. Ir. Asep Saepuloh, S.T., M.Eng. merupakan Guru Besar pada Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung, serta meraih gelar Magister dan Doktor dari Kumamoto University, Jepang.

Saat ini, beliau menjabat sebagai Ketua Komisi Pendidikan Sarjana, Pascasarjana, dan Kemahasiswaan ITB. Bidang penelitiannya berfokus pada pengindraan jauh untuk gunung api, geotermal, geologi, dan lingkungan. Riset terkininya mencakup analisis deformasi gunung api, kemandirian energi tropis, sistem cerdas seepage geotermal, hingga eksplorasi mineral berkelanjutan.

Dedikasi akademik Prof. Asep tercermin dari 187 publikasi ilmiah yang telah dihasilkan, serta perannya sebagai editor dan reviewer untuk jurnal internasional bereputasi Q1. Di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti dan pendidik, beliau memiliki hobi membaca, hiking, dan berkebun.

Selengkapnya dapat diakses di ITB Press.

#itb #orasi ilmiah guru besar #asep saepuloh #fitb itb #volkanologi digital #gunung api #mitigasi bencana #ketahanan energi nasional #energi geotermal #energi bersih #kemandirian energi #kecerdasan artifisial #artificial intelligence #digital volcano twin #teknologi satelit #sdg 4 #quality education #sdg 7 #affordable and clean energy #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 13 #climate action #sdg 17 #partnerships for the goals