Kolaborasi Lintas Disiplin Tumbuhkan Budaya SADAR Bencana di Desa Pulo Madu, Sulawesi Selatan

Oleh Gabriella Alodia, Ph.D. -

Editor Muhammad Efriza Pandia

Peserta kegiatan dan tim pelaksana di depan mural bertema “SADAR Bencana” selepas simulasi evakuasi dari Balai Desa ke SMP Negeri 3 Pasilambena.

PULO MADU, itb.ac.id – Sejumlah dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) serta kolaborator lintas sektor menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Pulo Madu, Kecamatan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Seribu, Sulawesi Selatan pada 20-23 Juni 2026.

Kegiatan yang bertajuk “SADAR Bencana: Pemetaan Partisipatif dan Penataan Ruang Berbasis Komunitas pada Jalur Evakuasi untuk Ketahanan Multi-Bahaya di Desa Pulo Madu” ini terlaksana melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Bottom-Up yang diinisiasi oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK ITB). SADAR Bencana sendiri merupakan kependekan dari “Siaga dan Antisipasi daerah Rawan Bencana”.

Diketuai oleh Gabriella Alodia, Ph.D. dari Kelompok Keahlian/Keilmuan Hidrografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB ITB) ini menggandeng berbagai komunitas dan perwakilan pemerintahan daerah, mulai dari Komunitas karasa.bdg, RumahKebun, serta Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar.

Sebagai pulau terluar dari Provinsi Sulawesi Selatan, Desa Pulo Madu memiliki tingkat kerentanan yang cukup signifikan, baik dari segi keterpaparan terhadap bahaya maupun dari segi jarak serta aksesnya ke pusat pemerintahan.

Berbagai bahaya geologi maupun hidrometeorologi tidak hanya berpotensi untuk merusak infrastruktur secara langsung, namun juga menghambat pasokan logistik serta transportasi antar pulau.

“Masyarakat Pulo Madu sangat bergantung pada pasokan logistik seperti beras, ayam, dan bahan bakar dari pulau-pulau lain. Cuaca serta kondisi laut yang cenderung tidak menentu dapat mempersulit datangnya pasokan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut,” ujar Hasriani dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar.

Hasriani dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar memfasilitasi pemetaan partisipatif bersama perwakilan warga dari berbagai lapisan di Desa Pulo Madu.

Merespons kondisi tersebut, kegiatan dimulai dengan diskusi kelompok terpusat untuk mengidentifikasi bahaya, bencana, serta kejadian-kejadian insidentil di Desa Pulo Madu selama 40 tahun ke belakang. Diskusi turut dilengkapi dengan pemetaan partisipatif untuk menentukan titik kumpul sera jalur evakuasi bersama dengan warga setempat.

“Pendekatan pemetaan secara partisipatif kami pilih untuk melibatkan segenap lapisan masyarakat baik dari tokoh masyarakat, nelayan, ibu rumah tangga, pemuda, hingga petugas medis dan penyandang disabilitas untuk memastikan bahwa titik-titik kumpul serta jalur evakuasi yang dipilih memang dapat menjawab kebutuhan evakuasi setiap lapisan tersebut pada saat bencana terjadi, Selain pemetaan partisipatif, kami juga membuat lini masa bencana dan bahaya yang dihadapi masyakakat beserta upaya-upaya adaptasi yang mereka lakukan.” ujar Difa Kusumadewi, kandidat doktoral dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK ITB).

Proses pembuatan mural yang diinisiasi oleh Komunitas karasa.bdg sebagai strategi penataan ruang berbasis komunitas di SMP Negeri 3 Pasilambena sebagai salah satu lokasi evakuasi.

Sementara itu, pendidikan kebencanaan untuk siswa SD dan SMP dilaksanakan melalui lokakarya pengenalan diri, penelusuran jalur evakuasi yang telah dirancang dalam kegiatan pemetaan partisipatif yang telah dilaksanakan sebelumnya, hingga pembuatan mural SADAR Bencana sebagai bagian dari penataan ruang berbasis komunitas pada salah satu titik evakuasi.

“Siswa SD dan terutama SMP ini memiliki peran penting dalam ekosistem ketahanan bencana karena mereka dapat menggerakkan komunitas, baik untuk yang lebih kecil maupun yang lebih dewasa. Untuk itu, kami mensimulasikan peran mereka dalam situasi kebencanaan, mulai dari pemimpin, penjaga, perawat, dan penghubung. Sementara mural sendiri berfungsi sebagai penanda dan pengingat bagi para peserta terkait titik kumpul serta jalur evakuasi yang telah dirancang,” ujar Andi Abdulqodir dari Komunitas karasa.bdg.

Muhammad Zeva Raditya Putra dari Program Studi Oseanografi ITB dalam proses pemasangan dan pengecekan Marine Automatic Weather Station (MAWAS) bersama perwakilan warga.

Di samping melaksanakan pendidikan kebencanaan kepada berbagai lapisan masyarakat, instalasi Marine Automatic Weather Station (MAWAS) hasil inovasi kolaboratif dari Dr. Iwan Pramesti Anwar (FITB ITB) beserta tim dan PT. Samudra Sains Teknologi turut dilaksanakan. Pemasangan alat ini digawangi oleh Muhammad Zeva Radityaputra, alumni Program Studi Sarjana Oseanografi, FITB ITB.

“Seluruh kegiatan kami tutup dengan peresmian stasiun MAWAS serta lomba simulasi evakuasi bencana bersama para peserta SD dan SMP. Harapannya, dengan adanya stasiun pengamatan laut dan cuaca ini, masyarakat dapat mengakses informasi laut dan cuaca dengan mudah serta dapat menjadi bagian dari keseharian di Pulo Madu. Selain itu, simulasi evakuasi bencana dilaksanakan dalam bentuk lomba untuk membuat budaya SADAR Bencana ini menjadi bagian dari ingatan anak-anak yang harapannya dapat dipraktikkan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di masa depan,” ujar Gabriella.

Gabriella Alodia beserta perwakilan tim, nelayan, dan warga Pulo Madu dalam sosialisasi dan peresmian MAWAS di dermaga Pulo Madu

Seluruh kegiatan akan didokumentasikan dalam bentuk film pendek yang dibuat oleh RumahKebun, komunitas berbasis pemuda dari Pulau Selayar.

#itb #itb berdampak #dpmk itb #pengabdian masyarakat #sadar bencana #siaga bencana #mitigasi bencana #sulawesi selatan #fitb itb #sappk itb #oseanografi itb #pendidikan kebencanaan #sdg 4 #quality education #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 13 #climate action #sdg 14 #life below water #sdg 17 #partnerships for the goals