ITB Dorong Pengembangan Batik Kampung Payung-Payung untuk Dukung Pariwisata Berkelanjutan

Oleh --- -

Editor Muhammad Efriza Pandia

BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM). Kali ini, ITB mendampingi masyarakat Kampung Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dalam mengembangkan batik lokal sebagai produk kreatif yang terintegrasi dengan potensi pertanian dan pariwisata berkelanjutan.

Program PPM skema Desa Binaan dan Wilayah 3T ini mengusung tema "Penguatan Ekonomi Lokal Berbasis Integrasi Pertanian dan Pelestarian Budaya Batik untuk Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kampung Payung-Payung, Maratua." Kampung Payung-Payung sebelumnya telah menjadi desa binaan ITB dengan fokus pendampingan di bidang pertanian. Melalui program ini, pendampingan diperluas dengan mengintegrasikan potensi pertanian yang telah dikembangkan bersama pelestarian dan pengembangan batik lokal.

Program tersebut merupakan kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan dosen dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta Sekolah Farmasi (SF). Tim diketuai oleh Dr. Mia Rosmiati dengan anggota Prof. Ramadhani Eka Putra; Dr. Tyar Ratuannisa; Dr. Nita Yuniati; Fitriani Jati Rahmania, Ph.D.; Aulia Fajrianingtyas, M.Ds., serta didukung dua mahasiswa, Ghinaya Jati Nurfadhilah dan Khansa Zafira Devi.

Ketua tim, Dr. Mia Rosmiati, menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pengembangan keterampilan berbasis budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi.

"Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, terutama keterampilan membatik sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi," ujarnya.

Menurutnya, batik memiliki potensi untuk menjadi salah satu produk unggulan Maratua yang tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga mendukung sektor pariwisata sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Pendampingan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 22–26 Januari 2026 dan diikuti oleh 20 peserta. Pada tahap ini, peserta memperoleh pelatihan dasar membatik, mulai dari proses perancangan motif, pembuatan sketsa, teknik mencanting, pewarnaan kain dengan metode celup dan colet, hingga proses pelorodan. Peserta juga mempraktikkan penggunaan canting tulis dan canting cap sederhana serta menerapkan prinsip dasar desain dalam pembuatan kain selendang.

Kegiatan pelatihan tahap 1 pada bulan Januari 2026

Selain memperkenalkan teknik membatik, tim juga mengenalkan berbagai tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan hasil pertanian yang selama ini dibina ITB ke dalam pengembangan produk budaya lokal sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Pendampingan kemudian berlanjut pada tahap kedua yang dilaksanakan pada 17–20 Juli 2026. Selain memperdalam keterampilan membatik, masyarakat memperoleh pelatihan mengenai pengelolaan limbah hasil produksi agar proses pembuatan batik semakin memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan pelatihan tahap 2 pada bulan Juli 2026

Pada tahap ini, peserta juga dibekali materi mengenai pemasaran digital, branding, dan labelling produk. Mereka mempelajari strategi membangun identitas produk sekaligus memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Pelatihan tersebut dilengkapi dengan praktik fotografi produk batik dan penyusunan kalimat promosi untuk mendukung pemasaran secara digital.

Tim PPM ITB turut mengevaluasi kembali proses produksi batik bersama masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk sekaligus mengeksplorasi teknik yang dapat diterapkan pada pengembangan batik lokal di masa mendatang. Dari hasil pendampingan, terlihat adanya peningkatan kemampuan peserta dalam mengolah kain menjadi produk batik.

Salah seorang peserta pelatihan, Helin, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

"Awalnya kami kira membatik itu sulit, ternyata jika diajari pelan-pelan bisa juga. Dari menggambar sampai mewarnai, kami jadi tahu caranya. Senang rasanya bisa buat batik sendiri. Mudah-mudahan ke depan bisa terus jalan dan jadi tambahan penghasilan ibu-ibu di kampung," tuturnya.

Melalui program ini, ITB berharap Kampung Payung-Payung semakin berkembang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya dikenal melalui potensi wisata baharinya, tetapi juga melalui produk kreatif berbasis integrasi pertanian dan budaya lokal. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus mendukung pelestarian budaya dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

#itb #pengabdian masyarakat #sdg1 #no poverty #sdg4 #quality education #sdg5 #gender equality #sdg8 #decent work and economic growth #sdg12 responsible consumption and production #sdg17 #partnerships for the goals